Selamat Datang di Website Masjid Jamie Alfalaq Jl. Gegerkalong Tengah No.7A Bandung Tlp.022-2011755

Masjid Adalah Rumah Allah

Alhamdulillah pada saat ini kita telah memenuhi panggilan Allah, memenuhi seruan Allah, pada setiap hari Jum’at. Kita telah bersiap-siap mandi sunnah, berwudlu dengan sempurna, kemudian melangkah menuju masjid, baik masjid yang berada di kampungnya maupun masjid yang berada di kantornya. Semua itu dalam rangka memenuhi fardu a’in (kewajiban shalat Jum’at yang Allah fardukan).
Ketahuilah bahwa karena dorongan iman kita berkumpul di sini, sebagai bukti adanya iman yang menghiasi sanubari kita, dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman, surah At-Taubah ayat 18 yang artinya ; “Hanya saja orang yang memakmurkan masjid, adalah orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada hari Akhirat, yang dia menegakkan sholat yang lima waktu dan dia menunaikan zakat, merekalah yang diharapkan mendapatkan hidayah, mendapatkan petunjuk dari Allah SWT”.
Oleh karena itu layaklah kita bersyukur, memuji kepada Allah SWT termasuk di dalam sabda Rasulullah dari Abi Hurairah, yang artinya : “Orang yang bersuci (berwudlu) di rumahnya kemudian dia pergi menuju kesebuah masjid, rumah Allah, untuk tunaikan dari pada fardhu-fardhu dan kewajiban-kewajiban yang telah Allah tetapkan, adalah dia memperoleh dari tiap-tiap langkahnya, satu langkah digugurkan kesalahannya dan diampuni dosanya oleh Allah dan langkah yang lain ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT”.
Inilah keberuntungan hamba-hamba yang shaleh, hamba-hamba yang cinta kepada masjid. Dikala dia telah selesai menunaikan kefardhuan, dia pulang kembali ke rumahnya, nanti datang waktu dia balik lagi. Demikian termasuk yang disabdakan oleh nabi kita Muhammad SAW yang artinya : “Apabila kamu melihat/me­nyaksikan ada orang yang selalu membiasakan diri datang ke masjid, dia laksanakan shalat, mengaji, atau ‘itikaf, dia pulang ke rumah esoknya dia kembali lagi, begitu terus menerus, Nabi bersabda saksikanlah orang itu, orang yang imannya teguh kepada Allah SWT”.

Di samping kita gembira dengan penuh pelbagai masjid di kota, namun kita juga merasa prihatin karena tidak sedikit, tetap saja sekalipun pangilan Jum’at telah diperdengarkan/ dikumandangkan, terkadang di pasar masih tetap ramai, di mal-mal masih tetap ramai, bahkan kami menjelang menuju ke masjid ini berdekatan dengan masjid ada beberap orang yang kami lihat orang sedang berbaris untuk membeli makanan, nongkrong, inilah yang kita sangat prihatin, tidak sempat mereka berwudlu, tidak sempat mereka bersiap memenuhi panggilan Allah, shalat yang merupakan fardu ‘ain atas diri mereka.
Di samping itu, kita merasa prihatin sebagaimana sering diungkapkan di masmedia cetak, tidak sedikit orang-orang pada hari Jum’at seharusnya ia pergi ke masjid, namun salah langkah bukan menuju ke masjid namun yang didatangi justru restoran-restoran, kadang-kadang yang dia datangi karoke-karoke, dia datangi hotel-hotel dengan kawan-kawan yang lain jenis untuk bermaksiat, Inilah tindakan-tindakan yang hanya mengikuti hawa nafsu, hentikanlah hal-hal yang semacam itu dan segeralah bertaubat dan meminta ampun kepada Allah SWT.
Marilah mulai dari sekarang kita tingkatkan kepedulian kita memakmurkan masjid-masjid baik yang ber­ada di kampung atau di mana kita bekerja, kalau sudah waktunya shalat kita si’arkan/ramaikan. Inilah yang paling baik dan itulah kewajiban kita. Lihatlah bagaimana nabi Muhammad SAW di saat gawat dengan susah payah nabi hijrah dari negeri Makkah menuju Yastrib / Madinah, Nabi musafir mengembara, dikejar oleh musuh, namun nabi ketika sampai di Quba (kurang lebih 3 km dari pusat kota), nabi membangun sebuah masjid, itulah kemudian yang dikenal dengan masjid Quba, yang selalu diziarahi oleh jamaah haji yang sudah menunaikan ibadah haji.

Menunjukan betapa pentingnya kedudukan masjid di dalam pengembangan agama Islam. Setelah dari Quba Nabi berangkat ke Yastrib, dan di sana juga mengutamakan membangun masjid dari pada membangun pemondokannya. Masjid adalah rumah Allah, di dalam hadits Nabi bersabda, yang artinya : “Masjid itu adalah rumah bagi orang yang bertaqwa”.
Apabila kita betul-betul termasuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, pasti kita senang/betah untuk berhubungan kepada Allah di masjid. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya : “Orang yang betah, orang yang jinak, atau orang yang suka dengan masjid, niscaya Allahpun suka berhubungan dengan dia”. Di samping orang yang hatinya cinta kepada masjid/lekat kepada masjid, dia juga senang beribadah kepada Allah, nanti di akhirat akan mendapat naungan di bawah naungan Arasy Allah SWT, di hari yang tidak ada teduhan, melainkan teduhan Allah SWT.

Di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya : “Ada tujuh macam orang nanti akan mendapat teduhan, naungan di bawah Arasy ar-Rahman, di hari yang tidak ada teduhan atau naungan melainkan teduhan Allah saja, di saat orang lain kepanasan, namun ada tujuh golongan yang selamat tidak ditimpa oleh panas di padang mahsyar yang begitu terik, salah satu di antara­nya adalah seorang laki-laki yang hatinya selalu lekat kepada masjid, ia senang dan suka beribadah kepada Allah SWT”.
Di dalam perkataan Ulama disebutkan “orang yang beriman, yang imannya sejati dia di masjid, bagaikan ikan di air, namun sebalikanya orang yang munafiq, yang lidahnya saja mengaku beriman tapi di bathinnya tidak, berada di masjid bagaikan burung di dalam sangkar”. Sekalipun sangkarnya dari emas, makanannya cukup, minumannya cukup tapi burung itu selalu mencari celah-celah di mana ia bisa keluar Marilah kita kembali kepada tuntunan Nabi Muhammad SAW, kita senang di masjid, barang siapa yang datang ke masjid lalu dia niat ‘itikaf, maka dia akan diampuni dosanya oleh Allah SWT. Marilah kita memohon taufiq kepada Allah SWT, mudah-mudahan semakin tebal iman kita semakin cinta pula kita kepada masjid yang merupakan baitullah (rumah Allah).

Senin, 10 Agustus 2009

Arti Kepahlawanan Sesungguhnya

0 komentar
KH. Maktub Efendi

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Hadirin Sidang Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah
Pada pagi hari yang berbagia ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala bentuk larangan-larangan Allah.

Karena Allah memerintahkan kita untuk bersyukur pada hari raya Idul Adha, atau yang lazim pula disebut sebagai Idul Qurban, maka marilah kita bersama-sama mempersaksikan kesyukuran kita di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Dan karena pada hari ini serta tiga hari tassyrik setelahnya, yakni tanggal 11 12 dan 13 Dzulhijjah, Allah melarang kita untuk berpuasa, maka marilah kita bersantap bersama-sama sepulang nanti dari sholat Idul Adha ini.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Idul Adha mengajarkan kepada kita tentang etos kepahlawanan dua manusia mulia, yakni Nabiyaallah Ibrahim dan puteranya, Ismail, alaihimassalam. Kepahlawanan mereka telah diakui oleh seluruh umat Muslim di hadapan Allah tanpa diperselisihkan.

Tapi mengapakah mereka diakui kepahlawanannya oleh seluruh hamba Allah? Apakah karena kekejamannya, apakah karena kedengkiannya ataukah karena kecerobohan mereka? Tentu saja bukan. Keduanya diakui sebagai pahlawan bagi seluruh alam karena telah bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah SWT dan memiliki banyak sekali jasa yang dapat dirasakan manfaatnya hingga ribuan tahun sepeninggal keduanya. Pembangunan ka'bah sebagai kiblat umat Islam sedunia adalah salah satu bukti nyata manfaat dari perjuangan hidup kedua Nabi Allah tersebut.

Allah SWT berfirman,

وَكََذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا ِلتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلىَ النَّاسِ وَيَكُوْنُ الرَّسُوْلَ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

“Dan demikian pula, Kami (Allah) telah menjadikanmu (umat Islam) sebagai umat pilihan yang adil, agar kamu sekalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasulullah Muhammad (juga) menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS. Al-Baqoroh, 2:143)

Sepanjang Kisah Rasulullah SAW adalah kisah kepahlawanan, bukan hanya tentang peperangan di front terdepan, namun seluruh kisah hidup Beliau adalah epos kepahlawanan. Bagaimana Rasulullah membantu pekerjaan-pekerjaan keluarga mendiang kakeknya, Abdul Mutthalib dengan menggembala domba adalah kisah kepahlawanan anak-anak. Lalu Rasulullah meningkatkan harkat ekonomi pribadi dan keluarga dengan menjadi pekerja di perniagaan Saudagar Hadijah binti khuwailid adalah juga sebuah romantika kepahlawanan remaja dan pemuda.

Kemudian kisah tentang baginda Nabi mempertahankan perekonomian keluarga dan para pengikutnya dari embargo kaum musyrik makkah adalah juga tindakan patriotik Rasul sebagai kepala keluarga dan pimpinan masyarakat. Termasuk ketika Rasulullah mendamaikan kaumnya ketika akan bertikai gara-gara berebut meletakkan kembali Hajar Aswad yang Ka’bahnya sedang direnovasi. Hajar Aswad dan Ka’bah yang hingga sekarang menjadi central umat Islam ketika menunaikan ibadah Haji.

Kisah Hijrah Rasulullah yang penuh ketegangan adalah bentuk kepahlawanan pemimpin umat yang akan menyongsong pembentukan dunia baru, dunia Islam yang penuh pengharapan dan kejayaan. Hingga kisah-kisah medan pertempuran Rasulullah dalam adu senjata dan strategi militer di tengah-tengah gurun pasir di sela-sela gunung-gunung batu yang diselimuti oleh terik menyengat.

Termasuk pula kisah kesuksesan Rasul memimpin umat Islam yang telah semakin meluas wilayah kedaulatannya, dari kota Madinah yang semula penuh dengan intrik dan permusuhan di antara kaum-kaum berbeda agama yang saling bertikai. Kesemuanya adalah kisah kepahlawanan sepanjang sejarah yang hingga kini harus senantiasa kita teladani.

Allah SWT berfirman,

ِ

إنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَشَّ اْلقَوْمُ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ، وَاللهُ لاَ يُحِبَّ الظَّالِمِيْنَ


“Jika kamu (Muhammad) menndapatkan luka (pada perang Uhud), maka sesungguhnya kaum kafir itupun mendapatkan luka yang sama (pada perang Badar). Masa Kejayaan dan Kehancuran memang kami pergilirkan di antara manusia. (Demikianlah) Allah membedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir. Dan agar sebagian dari kalian dapat dijadikan sebagai orang-orang yang mati syahid. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (QS. Al-Baqoroh, 2:140)

Hadirin Sidang Jamaah Idul Adha Rahimakumullah
Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa Rasulullah telah berjuang dengan sekuat tenaga serta mendapat berbagai cobaan, termasuk pernah mengalami kekalahan di medan pertempuran senjata yang ganas.

Maka kita sebagai orang Muslim yang mengaku sebagai pengikut Rasulullah tidaklah perlu takut dan bersedih berlebihan jika sesekali mendapatkan musibah dalam kehidupan.

Lihatlah betapa ketabahan Nabiyaallah Ibrahim dan puteranya Ismail Alaihimassalam, senantiasa berserah diri kepada Allah, meski harus mengorbankan nyawa mereka sekalipun. Lalu apakah kita pantas merasa sedih dan sayang, atau bahkan mengelak jika haya diperintahkan untuk mengorbankan nyawa-nyawa binatang untuk mengagungkan Asma Allah. Tentu sama sekali tidak pantas saudara-saudara sekalian.

Karena kita mesti mengingat, kepahlawanan senantiasa menuntut pengorbanan. Siapa yang ingin dipersaksikan di hadapan Allah sebagai pahlawan atau syuhada, maka mereka harus berani berkorban untuk membela ajaran-ajaran Allah SWT.

Sidang Idul Adha yang dimuliakan Allah
Imam Muhammad Husain al-Thaba’thabai dalam tafsir al-Mizan memaparkan, bahwa yang dimaksudkan sebagai Kesyahidan atau persaksian atau pengorbanan di hadapan Allah meliputi empat macam.

Pertama, yakni skill atau profesionalitas, kapasitas dan kualitas. Siapapun yang memiliki kemampuan professional, hendaknya ia mendarmabhaktikan kemampuannya tersebut untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan mendakwahkan syiar Islam melalui kemampuan professionalnya tersebut. Yang pedagang dengan dagangannya, yang petani dengan pertaniannya yang pengusaha dengan bidang usahanya masing-masing.

Kedua, menularkan kemampuannya tersebut demi kemajuan Islam dan kemaslahatan seluruh ummat. Artinya menyebarkan ilmu untuk menuju tatanan dunia yang lebih baik dan kehidupan manusia yang lebih berkualitas.

Ketiga, memperluas dan menjadikan karya-karyanya sebagai trand mark atau standard kebaikan, maka dari sini tentu siapa pun akan berlomba-lomba untuk menjadikan keunggulannya sebagai yang terdepan dalam kualitas kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh manusia.

Sedangkan yang keempat adalah, meskipun sekiranya kemanfaatan tersebut hanya untuk sebagian kelompok masyarakat, namun ia mesti dikenang sebagai kebaikan. Dengan demikian tentu tidak seorang pun yang menginginkan dirinya dikenang sebagai keburukan atau dikenang dalam tindakannya yang merugikan orang lain. Meskipun hanya kepada orang-orang tertentu saja misalnya.

Intinya, sekecil apapun dan sesederhana apapun tindakan kita, hendaknya ia bermanfaat bagi orang-orang lain tanpa menimbulkan madhorot bagi sebagian yang lain. Kesimpulan ini adalah saripati firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak menyuakai orang-orang yang dholim,” tadi.

Hadirin yang dirahmati Allah
Pada hari Idul Adha yang berbahagia ini, marilah kita senantiasa berusaha menjadi insan yang sholeh dan bertaqwa kepada Allah agar kelak kita dipersaksikan sebagai ummat yang dapat diandalkan dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW di hadapan umat-umat nabi lainnnya. Marilah kita mengukir kepahlawanan agar mendapatkan ridho Allah SWT melalui cara-cara yang santun dan tidak melukai orang lain. Terutama tidak melukai saudara-saudara sesama muslim. Meskipun hal ini harus kita lakukan dengan mengorbankan sebagian milik kita, sebagian harta kita dan sebagian kekayaan kita demi kebahagiaan saudara-saudara kita yang lain. Karena demikianlah pesan Idul adha yang sesunguhnya.

Marilah kita sama-sama berdoa, mudah-mudahan kita senantiasa diberkahi oleh Allah agar dikuatkan jiwa dan raga untuk memenuhi panggilan Allah, mencurahkan segala potensi kita untuk kemaslahatan agama Allah, masyarakat Muslim dan seluruh anggota bangsa kita ini. Agar kelak kita dipersaksikan sebagai pahlawan-pahlawan Allah
yang di kenang harum dalam kehidupan generasi-generasi selanjutnya. Amin

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


KH Maktub Efendi
Pengasuh Pesantren Baitun Nur, Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar